PENTINGNYA INTERAKSI EDUKATIF BAGI GURU DAN SISWA DALAM MENINGKATKAN MINAT BELAJAR SISWA

 Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pentingnya interaksi edukatif bagi guru dan siswa dalam meningkatkan minat belajar siswa. Interaksi edukatif itu sendiri adalah suatu gambaran hubungan aktif dua arah antara guru dan anak didik yang berlangsung dalam ikatan tujuan pendidikan. Dengan adanya interaksi edukatif yang baik, guru dapat meningkatkan minat belajar siswa, karena interaktif edukatif disini menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, harmonis, dan kondusif.

Kata kunci : Interaksi Edukatif, Guru dan Siswa, Minat Belajar.


Abstract

This study aims to determine the importance of educational interactions for teachers

and students in increasing student interest in learning. The educational interaction itself is a picture of an active two-way relationship between teachers and students that takes place in the bond of educational goals. With good educational interactions both, teachers can increase student interest in learning, because interactive education here creates a pleasant, harmonious, and conducive learning atmosphere.

Keywords : Educational Interaction, Teachers and Students, Learning Interest.


Pendahuluan


Manusia adalah makhluk individu dan makhluk sosial. Dalam hubungannya dengan manusia sebagai makhluk sosial, terkandung suatu maksud bahwa manusia bagaimanapun juga tidak dapat terlepas dari individu yang lain. Secara kodrati manusia akan selalu hidup bersama. Hidup bersama antara manusia akan berlangsung dalam berbagai bentuk komunikasi dan situasi. Dalam hidup semacam inilah terjadi interaksi. Dengan demikian kegiatan hidup manusia akan selalu dibarengi dengan proses interaksi atau komunikasi, baik interaksi dengan alam lingkungan, dengan sesamanya, maupun interaksi dengan Tuhannya, baik itu disengaja maupun tidak.

Guru dan peserta didik memang dua figur manusia yang selalu hangat dibicarakan dan tidak akan pernah absen dari agenda masyarakat. Guru tidak hanya disanjung dengan keteladanannya, tetapi ia juga dicaci maki dengan sinis hanya

karena kealpaannya berbuat kebaikan, meski kesalahan itu bak setitik noda semata. Keburukan perilaku peserta didik cenderung diarahkan pada kegagalan guru membimbing dan membina peserta didiknya. Padahal warna perilaku peserta didik yang buruk, itu dapat terkonsumsi dari multisumber.

Guru dan peserta didik adalah frase yang serasi, seimbang, dan harmonis. Hubungan keduanya berada dalam relasi kewajiban yang saling membutuhkan. Dalam perpisahan raga, jiwa mereka bersatu sebagai dwitunggal, guru mengajar dan peserta didik belajar dalam proses interaksi eduktif yang menyatukan langkah mereka kesatu tujuan yaitu kebaikan. Dengan demikian, kemuliannya guru dapat meluruskan pribadi peserta didik yang dinamis agar tidak membelok dari kebaikan.

Dalam sebuah pembelajaran, pendidikan dan pengajaran merupakan masalah yang cukup kompleks, banyak faktor yang mempengaruhinya, salah satunya adalah guru. Guru merupakan komponen utama yang memegang peranan penting, karena proses keberhasilan suatu kegiatan belajar sangat ditentukan oleh guru. Guru adalah sosok orang tua kedua di sekolah. Selain menjadi orang tua bagi siswanya disekolah, guru juga sebagai pemimpin sekaligus pelayan siswa. Oleh karena itu, guru harus memiliki interaksi yang baik bagi siswanya serta memiliki kepribadian dan kecakapan yang matang. Keberhasilan guru dalam menyampaikan materi sangat tergantung pada kelancaran interaksi antara guru dengan siswanya. Ketidaklancaran komunikasi membawa dampak terhadap pesan yang disampaikan guru. Manusia pada hakikatnya merupakan makhluk individu dan sosial, yang hidupnya ditandai dengan saling berinteraksi. 

Dari berbagai bentuk interaksi itu ada interaksi yang disengaja, yakni interaksi edukatif sebagai interaksi belajar mengajar yang berintikan pada kegiatan memotivasi. Interaksi yang bernilai edukatif, yakni interaksi yang dengan sadar meletakkan tujuan untuk mengubah tingkah laku dan perbuatan seseorang. Interaksi yang bernilai pendidikan ini dalam dunia pendidikan disebut sebagai interaksi edukatif. Minat belajar siswa sangat dipengaruhi oleh interaksi edukatif yang baik dari guru. 

Dalam proses pembelajaran, siswa harus memiliki minat untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar, agar timbul rasa senang pada mata pelajaran yang diterima. Karena minat inilah yang akan membawa siswa untuk menumbuhkan motivasi belajar, apabila minat telah tumbuh dan tertanam didalam diri siswa maka siswa akan merasa senang dalam mengikuti proses pembelajaran yang sedang berlangsung. Minat belajar ini menjadi faktor utama dalam keberhasilan belajar. Tidak peduli apakah guru itu mngajar dengan menarik atau tidak tetapi, jika kita memiliki kemauan yang sudah tertanam dalam diri kita untuk belajar menjadi orang yang sukses, maka minat belajar itu akan melekat dalam diri kita. Karena minat belajar siswa sangat dipengaruhi oleh interaksi edukatif yang baik dari guru. Dan minat inilah yang menjadi faktor keberhasilan belajar siswa dikelas.

Kajian Pustaka

Interaksi yang dikatakan sebagai interaksi edukatif, apabila secara sadar mempunyai tujuan untuk mendidik, untuk mengantarkan anak didik kearah kedewasaannya. Kegiatan komunikasi bagi diri manusia merupakan bagian yang hakiki dalam kehidupannya. Kalau dihubungkan dengan istilah interaksi edukatif sebenarnya komunikasi timbal balik antara pihak yang satu dengan pihak yang lain, sudah mengandung maksud tertentu, tidak semua bentuk dan kegiatan interaksi dalam suatu kehidupan berlangsung dalam suasana interaksi edukatif, yang didesain untuk suatu tujuan tertentu. 

Menurut B. Suryosubroto (2009: 147) Interaksi Edukatif adalah hubungan timbal balik antara guru dan murid dalam suatu sistem pengajaran, jadi interaksi yang di maksud adalah komunikasi dan komunikasi merupakan kata yang berarti berpartisipasi, memberitahukan atau menjadi milik bersama. Komunikasi antara peserta didik dengan guru adalah penyajian pesan (materi) pelajaran yang disampaikan oleh guru kepada peserta didiknya.didalamnya terjadi dan terlaksana hubungan timbal-balik (komunikatif). 

Adapun ciri-ciri interaksi edukatif menurut B. Suryosubroto antara lain:

Tujuan yang ingin dicapai

Penggarapan materi khusus

Ditandai dengan aktivitas anak

Guru yang berperan sebagai pembimbing

Interaksi edukatif membutuhkan disiplin

Mempunyai batas waktu

Evaluasi.

Dalam suatu proses pembelajaran, interaksi memegang peranan penting bagi seorang guru untuk dapat mempermudah dalam memberikan suatu materi pelajaran yang akan disampaikan. Dengan adanya interaksi edukatif yang baik dalam pembelajaran, tentunya murid tidak akan bosan dan akan terus giat untuk belajar, dan belajar. Dalam interaksi edukatif unsur guru dan anak didik harus aktif, tidak mungkin terjadinya proses interaksi edukatif bila hanya satu unsur yang aktif. Aktif dalam arti sikap, mental dan perbuatan. Dalam sistem pengajaran dengan pendekatan ketrampilan proses, murid harus lebih aktif dari pada guru. Guru hanya bertindak sebagai pembimbing dan fasilitator. 

Menurut pendapat M. Uzer Usman dalam Djamarah (2013: 48), beliau memaparkan kegiatan interaksi belajar mengajar sangat beraneka ragam coraknya, mulai dari kegiatan yang didominasi oleh guru sampai kegiatan mandiri yang dilakukan oleh murid. Hal ini, tentu saja tergantung pada keterampilan guru dalam mengelolah kegiatan interaksi belajar mengajar. Penggunaan variasi pola interaksi mutlak dilakukan oleh guru. Hal ini dimaksud agar tidak menimbulkan kebosanan, kejenuhan, serta untuk menghidupkan suasana kelas demi keberhasilan anak didik dalam mencapai tujuan.

Guru adalah sosok orang tua kedua di sekolah. Selain menjadi orang tua bagi siswanya disekolah, guru juga sebagai pemimpin sekaligus pelayan siswa. Oleh karena itu, guru harus memiliki interaksi yang baik bagi siswanya serta memiliki kepribadian dan kecakapan yang matang. Dalam proses pembelajaran, harus terciptanya interaksi edukatif bagi guru dan siswa. Interaksi edukatif yang dimaksud adalah suasana yang hangat, bersahabat, mendidik, dan menyenangkan dalam pembelajaran. Guru harus menjadi sosok yang dirindukan kehadirannya di sekolah. Sehingga peserta didik semangat ketika melakukan proses pembelajaran, dan akan merindukan kembali suasana belajar ketika proses kegiatan belajar mengajar akan berakhir. 

Siswa adalah generasi penerus yang diharapkan dapat melanjutkan tongkat estafet pembangunan. Murid perlu dibekali dengan kompetensi agar dapat berkiprah dalam pembangunan dan dapat bersaing di era global. Kompetensi meliputi sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang dikuasai oleh seseorang. Ketika seorang murid lulus dari satuan pendidikan, maka dia harus merepresentasikan standar kompetensi lulusan yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

Minat belajar berasal dari dua kata yaitu minat dan belajar. Minat adalah suatu rasa lebih suka dan rasa ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan suatu di luar diri (Slameto, 2010: 180). Crow and Crow mengatakan bahwa minat berhubungan dengan gaya gerak yang mendorong sesorang untuk menghadapi atau berurusan dengan orang, benda, kegiatan, dan pengalaman yang dirangsang oleh kegiatan itu sendiri (Djaali, 2012: 121). 

Secara sederhana minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Jadi minat dapat diekspresikan melalui pernyataan yang menunjukkan bahwa siswa lebih menyukai suatu hal dari pada hal lainnya. Dapat pula dimanifestasikan melalui partisipasi dalam suatu aktifitas. Minat tidak dibawa sejak lahir, melainkan diperoleh kemudian.

Menurut Djaali (2012: 123) minat memiliki dua aspek, yaitu: 

Aspek kognitif, aspek ini didasarkan atas konsep yang dikembangkan seseorang mengenai bidang yang berkaitan dengan minat. Konsep yang membangun aspek kognitif di dasarkan atas pengalaman dan apa yang dipelajari dari lingkungan.

Aspek afektif, aspek afektif adalah konsep yang membangun konsep kognitif dan dinyatakan dalam sikap terhadap kegiatan atau objek yang menimbulkan minat. Aspek ini mempunyai peranan yang besar dalam memotivasikan tindakan seseorang.

Minat dapat menunjukkan kemampuan untuk memberi stimuli yang mendorong kita untuk memperhatikan seseorang, sesuatu atau kegiatan, dan dapat memberi pengaruh terhadap pengalaman yang telah distimuli oleh kegiatan itu sendiri. Dengan kata lain minat dapat menjadi sebab sesuatu kegiatan dan hasil dari turut sertanya dalam kegiatan itu. Berhasil atau tidak seseorang dalam belajar disebabkan beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi pencapaian hasil belajar. Faktor-faktor yang mempengaruhi banyak jenisnya, tetapi digolongkan menjadi dua golongan, yaitu faktor intern dan faktor ekstern.

Metode Penelitian

Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif kata-kata tertulis dan perilaku yang diamati dari fenomena yang terjadi.

Hasil dan Pembahasan

Setiap guru akan mempunyai pengaruh terhadap peserta didik, pengaruh tersebut ada yang terjadi melalui pendidikan dan pengajaran yang dilakukan dengan sengaja dan ada pula yang terjadi secara tidak sengaja, bahkan tidak disadari oleh guru, melalui sikap, gaya mengajar dan kinerjanya dalam melaksanakan proses pembelajaran. Minat memainkan peran yang penting dalam kehidupan seseorang dan mempunyai dampak yang besar atas perilaku dan sikap. 

Anak yang berminat terhadap sesuatu akan berusaha lebih keras untuk belajar dibandingkan dengan anak yang kurang berminat. Minat besar pengaruhnya terhadap belajar, karena apabila ada guru yang kinerjanya dalam mengajar tidak sesuai dengan apa yang diharapkan oleh peserta didik maka akan menimbulkan minat belajar peserta didik berkurang dan hal ini memungkinkan peserta didik yang bersangkutan tidak belajar dengan sebaik – baiknya, karena tidak ada daya tarik baginya. 

Akhir-akhir ini banyak keluhan bahwa minat belajar berkurang. Salah satu penyebabnya adalah faktor guru yaitu kurang menguasai bahan ajar dan kurang cakap dalam membimbing siswa dalam belajar. Perilaku dan sikap guru di sekolah terutama dalam proses belajar mengajar sangat berpengaruh pada siswa. Sikap guru yang menyenangkan dirasakan oleh siswa sebagai kebahagiaan tersendiri. Apabila siswa merasa bahwa kinerja guru dalam melaksanakan proses pembelajaran tidak sesuai dengan apa yang diharapkan siswa, maka akan menimbulkan rasa malas dan bosan pada diri siswa. Siswa yang berminat terhadap suatu mata pelajaran akan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh, karena ada daya tarik baginya.

 Seorang siswa mempunyai minat yang besar terhadap suatu bidang studi ia akan memusatkan perhatian lebih banyak dari temannya, kemudian karena pemusatan perhatian yang intensif terhadap materi itulah yang memungkinkan siswa tadi untuk belajar lebih giat, dan akhirnya mencapai prestasi yang tinggi dalam bidang studi tersebut. Selain itu guru juga harus menjadi panutan yang dapat dicontoh oleh siswanya baik dalam perkataan, perbuatan dan pergaulannya dalam kehidupan sehari-hari, baik di sekolah maupun di lingkungan sekitar. Rasulullah SAW adalah suri teladan bagi setiap manusia yang hidup di dunia. Beliau mendidik umatnya dengan memberikan teladan yang baik bagi umatnya. Dalam hal ini metode keteladanan adalah salah satu metode yang bisa diterapkan dalam proses belajar mengajar. 

Seorang guru dapat saja menyusun sistem pendidikan yang lengkap dengan menggunakan seperangkat metode atau strategi sebagai pedoman dan acuan dalam bertindak serta mencapai tujuan dalam pendidikan. Namun keteladanan seorang guru sangatlah penting dalam interaksi dengan siswanya. Karena pendidikan tidak hanya sekedar menangkap atau memperoleh sesuatu dari ucapan seorang guru, akan tetapi justru melalui keseluruhan kepribadian yang tergambar pada sikap dan tingkah laku seorang guru.

Interaksi edukatif adalah interaksi yang bertujuan untuk mendapatkan suatu pengajaran dan pendidikan, dimana guru dan siswa menjadi salah satu subjek sebagai perantara interaksi tersebut. Keduanya memiliki timbal balik yang baik, dengan adanya interaksi  edukatif akan membuat siswa menerima materi dengan baik dan giat dalam mengikuti proses pembelajaran. Sehingga timbul minat belajar bagi siswa itu sendiri. Minat inilah yang akan menjadi salah satu motivasi  siswa dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar. 

Guru harus menjadi sosok yang dirindukan kehadirannya di sekolah. Sehingga peserta didik semangat ketika melakukan proses pembelajaran, dan akan merindukan kembali suasana belajar ketika proses kegiatan belajar mengajar akan berakhir. Pada saat mengajar, guru harus mempunyai rasa sabar yang luar biasa untuk menghadapi berbagai karakteristik peserta didiknya yang berbeda. Selain itu, pada saat mengajar kita harus memberikan ilmu yang tulus kepada anak didik kita, sehingga guru yang memberikan ilmunya dengan tulus dan penuh dedikasi, sebagai bagian dari ibadah dan jihad mencerdaskan kehidupan bangsa. Guru dan murid adalah manusia yang sama-sama punya rasa dan punya hati. Guru harus mengajar dengan hati. Hatinya perlu disentuh agar dia merasa nyaman dan senang dalam belajar. 

Guru harus memiliki kedekatan secara emosional dengan murid. Guru adalah orang tua murid di sekolah. Kedekatan emosional akan berdampak terhadap terciptanya suasana yang harmonis. Seseorang yang perasaannya sedang bahagia tentunya akan melakukan aktivitasnya dengan senang dan gembira, nafsu makan pun meningkat. Jika pelajaran diibaratkan menu makanan, maka siswa yang perasaanya nyaman dalam belajar, maka dia akan "melahap" setiap materi pelajaran dengan nikmat. Kadang karena perasaan senangnya tersebut, tidak terasa jam pelajaran sudah habis. Berbeda jika siswa kurang menyukai pelajaran tersebut, kelas terasa seperti penjara atau sangkar yang mengekang kebebasannya. Oleh karena itu, dia ingin agar pelajaran cepat selesai. 

Tidak hanya siswa yang harus memiliki minat untuk belajar, tetapi guru pun harus memiliki minat untuk mengajar anak didiknya, karena apabila didalam hati seorang guru tidak tertanam niat tulus untuk mengajar, maka ilmu yang ia sampaikan akan menjadi dosa dan tidak berkah untuk diterima oleh anak didiknya. Oleh karena itu, baik siswa dan guru harus sama – sama mempunyai minat untuk belajar dan mengajar, sehingga ilmu terus mengalir sepanjang waktu. Interaksi edukatif penting diberikan kepada guru dan siswa agar dapat mengantisipasi hal – hal yang tidak diinginkan, seperti pendekatan pendidikan sudah banyak bergeser dari behavioristik kepada humanistik. Semangat perlindungan HAM dan hak anak juga turut mempengaruhi paradigma pendidikan saat ini. 

Walau demikian, kadang hal ini di salah gunakan dan di salah artikan oleh sebagian orang sehingga atas nama perlindungan anak, guru-guru banyak yang diadukan melanggar hak – hak anak karena dianggap melakukan tindakan kekerasan dalam pembelajaran. Akibatnya, banyak guru yang gamang, khawatir di kriminalisasi ketika memberikan hukuman kepada muridnya yang melanggar disiplin. Dengan demikian, baik guru maupun siswa harus menjalin interaksi yang cukup baik, untuk sama – sama menciptakan kondisi yang bersahabat, menyenangkan, hangat, dan harmonis.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil pembahasan diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa, interaksi edukatif penting diberikan untuk guru maupun siswa, agar keduanya memiliki hubungan timbal balik yang baik, serta dapat meningkatkan minat belajar siswa dalam mengikuti proses pembelajaran dikelas, dengan timbulnya minat siswa yang ada dalam dirinya, maka siswa akan selalu giat untuk mengikuti setiap langkah proses pembelajaran, serta dapat melatih kesabaran guru untuk menghadapi perbedaan karakteristik siswa dalam belajar. Kemudian dapat menumbuhkan suasana kelas yang nyaman dan harmonis. 

Guru pun harus memiliki minat untuk mengajar anak didiknya, karena apabila didalam hati seorang guru tidak tertanam niat tulus untuk mengajar, maka ilmu yang ia sampaikan akan menjadi dosa dan tidak berkah untuk diterima oleh anak didiknya. Oleh karena itu, baik siswa dan guru harus sama – sama mempunyai minat untuk belajar dan mengajar, sehingga ilmu terus mengalir sepanjang waktu. 

Interaksi edukatif penting diberikan kepada guru dan siswa agar dapat mengantisipasi hal – hal yang tidak diinginkan, seperti pendekatan pendidikan sudah banyak bergeser dari behavioristik kepada humanistik. Semangat perlindungan HAM dan hak anak juga turut mempengaruhi paradigma pendidikan saat ini. Selain itu, guru juga harus memiliki kedekatan secara emosional dengan murid. Karena guru adalah orang tua murid di sekolah. Kedekatan emosional akan berdampak terhadap terciptanya suasana yang harmonis.

Saran

Dengan mengetahui pentingnya interaksi edukatif diharapkan agar guru mampu memahami, memberikan, serta menciptakan interaksi yang bernilai baik kepada anak didiknya agar mencegah kesenjangan interaksi edukatif bagi siswa dan keduanya. Dan diharapkan dapat menciptakan suasana kondisi kelas yang bersahabat, menyenangkan, serta harmonis.


Daftar Pustaka


Suryosubroto, B. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada 2000). Cet 7 h.1

Crow, Lester D dan Alice Crow. 1984. Educational Psychology. Terjemah Kasijan. Jilid I. Surabaya: Bina Ilmu

Djaali. 2012. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Slameto. 2010. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhi. Jakarta: Rineka Cipta.

http://erepository.perpus.iainsalatiga.ac.id/122/1/Ana%20Soraya_11111138.pdf

Djamarah, Syaiful Bahri. 2013. Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

hukum Ikhfa Haqiqi (Aqrob, Ab’ad, dan Ausath)

Penilaian Dalam Pembelajaran Terpadu (pengertian, ruang lingkup, tujuan dan fungsi)