Pengaruh Modernisasi Terhadap Nilai Pendidikan Islam Dalam Budaya Nganggung Di Desa Cupat Kecamatan Parittiga
Abstrak
Disetiap daerah memiliki tradisi, adat dan budaya yang berebeda-beda. Budaya nganggung merupakan salah satu warisan nenek moyang bangka belitung yang paling berharga. Sampai saat ini budaya nganggung masih terus dipertahankan dan dilestarikan. Banyak sekali budaya dibangka namun tidak semua warisan leluhur tersebut memiliki nilai-nilai keislamannya.Ada budaya warisan leluhur yang memiliki nilai keislaman, yaitu nilai yang terkandung dalam budaya nganggung, seperti nilai religi, nilai etika, nilai sosial, nilai gotong royong dan nilai ukhwah islamiyah. nilai tersebut dapat mempererat silahturahmi dan kebersamaan maupun solidaritas bersama.
Penelitian ini dilatarbelakangi untuki mengkaji pengaruh modernisasi terhadap nilai pendidikan islam dalam budaya nganggung . Latar belakang timbulnya tradisi nganggung ini bermula dari sebuah kebiasaan dan kepercayaan animisme kepada roh-roh nenek moyang. Prosesi pelaksanaa tradisi nganggung dalam peringatan hari-hari besar islam. Setiap hari besar islam akan dilaksanakannya tradisi nganggung untuk memeriahkan hari besar islam seperti, perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, 1 Muharram,Nisyfu Sya’ban , Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Tradisi nganggung mengandung nilai-nilai diantaranya seperti nilai religius, nilai spiritual, nilai sosial, nilai keimanan kepada allah dan nilai gotong royong.
Kata kunci: Pengaruh modernisasi;nilai-nilai pendidikan Islam; budaya nganggung.
Abstract
Each region has different traditions, customs and cultures. The culture of nganggung is one of the most valuable legacies of the Pacific Islands ancestors. Until now, the culture of singing still continues to be maintained and preserved. There are so many cultures in the frame, but not all of the ancestral heritage has Islamic values. There is a cultural heritage that has Islamic values, namely the values contained in the culture of inclusion, such as religious values, ethical values, social values, mutual cooperation values and Islamic values of ukhwah islamiyah . these values can strengthen friendship and togetherness as well as joint solidarity.
This research is motivated to examine the effect of modernization on the value of Islamic education in the culture of culture. the background of the emergence of the nganggung tradition stems from a habit and animistic belief in the spirits of the ancestors. The procession of implementing the nganggung tradition in commemorating Islamic holidays. Every Islamic holiday will carry out the nganggung tradition to enliven Islamic holidays such as, the celebration of the birthday of Prophet Muhammad SAW, 1 Muharram, Nisyfu Sya'ban, Eid al-Fitr and Eid al-Adha. The nganggung tradition contains values such as religious values, spiritual values, social values, the value of faith in God and the value of mutual cooperation.
Keywords: The influence of modernization, the values of Islamic education; nganggung culture.
PENDAHULUAN
Kebudayaan daerah yang merupakan wujud dasar dari kebudayaan nasional turut memberikan peranan dalam pembinaan suatu bangsa. Dengan demikian kebudayaan daerah mempunyai makna dan perranan tersendiri dalam masyarakat yang berpengaruh kepada pembinaan nilai-nilai budaya yang terkandung didalamnya sebagai unsur budaya mereka.
Modernisasi adalah suatu proses transformasi dari suatu arah perubahan ke arah yang lebih maju atau meningkat dalam berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa modernisasi adalah proses perubahan dari cara-cara tradisional ke cara-cara baru yang lebih maju, dimana dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seiring dengan pendapat Wilbert E. Moore yang mengemukakan bahwa modernisasi adalah suatu transformasi total kehidupan bersama yang tradisional atau pra moderen dalam arti teknologi serta organisasi sosial, ke arah pola ekonomis dan politis yang menjadi ciri-ciri negara barat yang stabil.
Budaya nganggung merupakan salah satu warisan nenek moyang Bangka Belitung yang paling berharga. Budaya nggangung disebut dengan istilah sepintu sedulang yaitu sebuah kegiatan yang membawa dulang berisi makanan ke masjid atau langgar. Dalam kegiatannya, budaya nganggung mencerminkan adanya pendidikan nilai-nilai keislaman seperti mengedepankan kebersamaan, saling membantu antar warga dalam suatu desa atau kampung, dan ukhwah Islamiyah. Selain untuk budaya yang berbau ritual, nganggung juga dilakukan untuk menyambut kedatangan tamu yang dihargai atau dimuliakan.
Namun dengan seiringnya waktu perubahan zaman modern jika kita kaitkan dengan nilai keislaman semakin merosot, dapat kita lihat bahwa perkembangan peradaban dunia modern saat ini didominasi oleh pola pikir barat, baik itu sistem ekonomi, sosial, maupun budaya semuanya berkembang atas nama barat, yang paling berpengaruh yaitu para anak-anak remaja yang saat ini mengklaim bahwa mereka berada dizaman modern yang bebas dan mereka lebih melestarikan budaya barat dibandingkan budayanya sendiri. Maka dari itu pudarnya budaya nenek moyang disebabkan oleh masyarakat ataupun rakyat indonesia sendiri yang berusaha meninggalkan kebudayaannya. Disaat zaman modern seperti sekarang ini kita sendiri yang menganggap budaya itu kulot sehingga kita lah yang membunuh budaya kita sendiri. Dengan adanya zaman yang selalu berkembang dan maju masyarakat mulai menganggap modernisasi adalah suatu budaya yang sempurna. Pudarnya adat ketimuran dan majunya budaya kebarat-baratan menyebabkan hilangnya jati diri atau kepribadian seseorang sebagai orang indonesia.
KAJIAN PUSTAKA
Hakikat Modernisasi
Pada dasarnya semua bangsa dan masyarakat di dunia ini senatiasa terlibat dalam proses modernisasi, meskipun kecepatan dan arah perubahannya berbeda-beda antara masyarakat yang satu dengan masyarakat yang lain. Proses modernisasi itu sangat luas, hampirhampir tidak bisa dibatasi ruang lingkup dan masalahnya, mulai dari aspek sosial, ekonomi, budaya, politik, dan seterusnya.
Konsep modernisasi dalam arti khusus yang disepakati teoritisi modernisasi di tahun 1950-an dan tahun 1960-an, didefinisikan dalam tiga cara: historis, relatif, dan analisis. Menurut definisi historis, modernisasi sama dengan westernisasi atau Amerikanisasi. Modernisasi dilihat sebagai gerakan menuju cita-cita masyarakat yang dijadikan model. Menurut pengertian relatif, modernisasi berarti upaya yang bertujuan untuk menyamai standar yang dianggap moderen baik oleh masyarakat banyak maupun oleh penguasa. Definisi analisis berciri lebih khusus dari pada kedua definisi sebelumnya yakni melukiskan dimensi masyarakat moderen dengan maksud untuk ditanamkan dalam masyarakat tradisional atau masyarakat pra moderen.
Modernisasi adalah suatu proses transformasi dari suatu arah perubahan ke arah yang lebih maju atau meningkat dalam berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa modernisasi adalah proses perubahan dari cara-cara tradisional ke cara-cara baru yang lebih maju, dimana dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Seiring dengan pendapat Wilbert E. Moore yang mengemukakan bahwa modernisasi adalah suatu transformasi total kehidupan bersama yang tradisional atau pra moderen dalam arti teknologi serta organisasi sosial, ke arah pola ekonomis dan politis yang menjadi ciri-ciri negara barat yang stabil.
Pengertian Nilai
Nilai adalah esensi yang melekat pada sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan manusia, khususnya mengenai kebaikan dan tindak kebaikan suatu hal, Nilai artinya sifat-sifat atau hal-hal yang penting atau berguna bagi kemanusiaan.
Adapun pengertian nilai menurut pendapat beberapa para ahli antara lain:
Menurut Milton Rekeach dan James Bank, nilai adalah suatu tipe kepercayaan yang berada dalam ruang lingkup sistem kepercayaan dalam mana seseorang bertindak atau menghindari suatu tindakan, atau memiliki dan dipercayai.
Sedangkan menurut Chabib Thoha nilai merupakan sifat yang melekat pada sesuatu (Sistem kepercayaan) yang telah berhubungan dengan subjek yang memberi arti (manusia yang meyakini). Jadi nilai adalah sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi manusia sebagai acuan tingkah laku.
Dari pendapat para ahli diatas dapat disimpulkan bahwa nilai merupakan esensi yang melekat pada sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Esensi belum berarti sebelum dibutuhkan oleh manusia, tetapi tidak berarti adanya esensi karena adanya manusia yang membutuhkan. Hanya saja kebermaknaan esensi tersebut semakin meningkat sesuai dengan peningkatan daya tangkap pemaknaan manusia itu sendiri.
Jadi nilai adalah sesuatu yang dipentingkan manusia sebagai subyek menyangkut segala sesuatu baik atau yang buruk sebagai abstraksi, pandangan, atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi perilaku yang ketat.
Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan Islam menurut istilah di rumuskan oleh pakar pendidikan Islam, sesuai dengan perspektif masing-masing. Diantara rumusan tersebut adalah sebagai berikut:
Hasan Langgulung mengatakan, bahwa “pendidikan Islam adalah proses penyiapan generasi muda untuk mengisi peranan, memindahkan pengetahuan dan nilai-nilai Islam yang diselaraskan dengan fungsi manusia untuk beramal didunia dan memetik hasilnya di akhirat.
Sedangkan menurut Omar Mohammad al-thoumi Al-Syaibani, “pendidikan Islam adalah proses mengubah tingkah laku individu pada kehidupan pribadi, masyarakat, dan alam sekitarnya dengan ilmu cara pengajaran sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi diantara profesi-profesi asasi dalam masyarakat”
Jadi dapat disimpulkan bahwa pendidikan islam merupakan Proses transliternalisasi pengetahuan dan nilai-nilai Islam kepada peserta didik melalui upaya pengajaran, pembiasaan, bimbingan, pengasuhan, pengawasan, dan pengembangan potensinya, guna mencapai keselarasan dan kesempurnaan hidup didunia dan akhirat.”
Pendidikan Islam adalah bimbingan jasmani-rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran-ukuran Islam. Kepribadian utama ini selanjutnya disebut dengan kepribadian muslim. Yakni, kepribadian yang memiliki nilai-nilai agama Islam, memilih dan memutuskan serta berbuat berdasarkan nilai-nilai Islam, dan bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam.
Pengertian Budaya Nganggung
Nganggung adalah suatu tradisi turun temurun yang hanya bisa dijumpai di Bangka. Tradisi nganggung yang merupakan identitas Bangka, dikenal dengan slogan sepintu sedulang, yaitu mencerminkan sifat kegotong royongan, berat sama dipikul ringan sama dijinjing.
Nganggung atau yang dikenal masyarakat Bangka dengan sepintu sedulang merupakan warisan nenek moyang yang mencerminkan suatu kehidupan sosial masyarakat berdasarkan sifat kegotong-royongan atau berat sama dipikul ringan sama dijinjing. Setiap bubung rumah melakukan kegiatan tersebut untuk dibawa kemasjid, surau atau tempat berkumpulnya warga kampung. Adapun nganggung merupakan suatu kegiatan yang dilakukan masyarakat dalam rangka memperingati hari besar agama Islam, menyambut tamu kehormatan, acara selamatan orang meninggal, acara pernikahan atau acara apapun yang melibatkan orang banyak. Dalam acara ini, masyarakat membawa makanan di dalam dulang atau talam yang ditutup tudung saji ke masjid, surau, atau balai desa untuk dimakan bersama setelah pelaksanaan ritual agama.
Setiap kepala keluarga dalam budaya nganggung membawa dulang yaitu sejenis nampan bulat sebesar tampah yang terbuat dari aluminium dan ada juga yang terbuat dari kuningan. Untuk yang terakhir ini sekarang sudah agak langka, tapi sebagian masyarakat Bangka masih mempunyai dulang kuningan ini. Didalam dulang ini tertata aneka jenis makanan sesuai dengan kesepakatan apa yang harus dibawa. Kalau nganggung kue, yang dibawa kue, nganggung nasi, isi dulang nasi dan lauk pauk, nganggung ketupat biasanya pada saat lebaran. Dulang ini ditutup dengan tudung saji yang dibuat dari daun, sejenis pandan, dan di cat, tudung saji ini banyak terdapat dipasaran. Dulang ini dibawa ke masjid, atau tempat acara yang sudah ditetapkan, untuk dihidangkan dan dinikmati bersama. Hidangan ini dikeluarkan dengan rasa ikhlas, bahkan disertai dengan rasa bangga.
METODE
Penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk mendeskripsikan secara terperinci tentang fenomena tradisi nganggung di desa cupat kecamatan parittiga provinsi kepulauan bangka belitung. Metode penelitian ini menggunakan penelitian kualitatif deskriptif. Menurut Bailey dalam Mukhtar (2013 : 110) penelitian kualitatif deskriptif selain mendiskusikan berbagai kasus yang sifatnya umum tentang berbagai fenomena sosial yang ditemukan, juga harus mendeskripsikan hal-hal yang bersifat spesifik yang dicermati dari sudut pandang bagaimana terhadap suatu realitas yang terjadi baik perilaku yang ditemukan maupun perilaku tersembunyi.
Melalui pendekatan ini, akan digali sebanyak-banyaknya informasi, yaitu data tentang tradisi nganggung , prosesi adat, makna dan simbol yang terkandung didalam penyelenggaraannya. Selain itu, pendekatan ini juga menguraikan tentang ragam bentuk pelestarian dan upaya pemerintah dalam melestarikan salah satu tradisi dan budaya lokal melayu ditengah perkembangan zaman modernisasi.
PEMBAHASAN
Ciri khas dari tradisi Nganggung ini adalah cara masyarakat mengemas makanan talam/nampan (dalam bahasa lokal disebut dulang). Makanan yang disiapkan biasanya terdiri dari sepiring nasi putih, sepiring lempah ikan, ayam, sayur darat (sayur dengan bumbu 3 (terasi, garam dan gula) biasanya berisi ketimun dan alar (akar) keladi darat, serta sepiring buah seperti jeruk, apel, anggur, lengkeng dan semangka atau durian jika sudah tiba musimnya. Setelah itu hidangan ditutup dengan tudung saji yang terbuat dari daun pandan hutan yang memiliki warna dominan merah, sementara di bagian atasnya dihiasi dengan warna hijau dan kuning membentuk bidang segitiga yang tersusun rapih membentuk sebuah lingkaran yang memiliki diameter lebih kurang 40 cm. Agar tidak tertukar dengan dulang dan tudung saji yang lain biasanya masyarakat memberi tanda khusus pada tudung saji, dulang dan piring berupa inisial pemilik.
Paket dari ritual doa dan diakhiri dengan acara santapan bersama. Sebuah hal yang unik adalah bagaimana masyarakat setempat menghantarkan dulang ke tempat hajatan, dengan mengenakan baju muslim dipadu sarung, sementara songkok khas melayu (terbuat dari anyaman rotan/batang resam (sejenis tumbuhan paku;)) mendominasi. Dulang dibawa dengan tangan kanan sebagai penyangga, sementara tangan kiri mencengkram bibir dulang dan tudung saji agar tidak jatuh.
Setelah doa selesai dilantunkan, satu persatu tudung saji dibuka dan diletakkan di tempat yang lapang. Jama‘ah Nganggung saling mempersilahkan jama‘ah yang lain untuk menyantap hidangan yang mereka bawa. Jama‘ah boleh menyantap hidangan yang mereka bawa sendiri atau bertukar dengan hidangan di sebelah kanan maupun kiri di mana dia duduk. Satu piring munjung nasi putih biasanya juga diedarkan oleh tuan rumah, yang sengaja disiapkan untuk tambah beserta segelas air kemasan yang diedarkan secara beranting. Suasana menjadi tampak semarak ketika mereka saling bertukar lauk dan lempah (sayur), nampak guyup dan rukun.
Ritual Nganggung biasanya dilaksanakan pada hari-hari besar Islam seperti Idul Fitri, Idul Adha, peringatan Nuzul al-Qur‘an, peringatan 1 Muharram, peringatan Isra‘ Mi‘raj, peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw atau juga ruwah kubur, peringatan kematian, melepas jamaah haji dan menyambut tamu-tamu penting. Untuk tradisi Nganggung dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dilaksanakan setelah selesai shalat Id di masjid Jami‘ dan masjid-masjid kecil. Sementara untuk perayaan maulid Nabi Muhammad Saw dilaksanakan pada malam hari setelah shalat Isya‘ tanggal 11 Rabi‘ul Awwal dan berakhir sekitar pukul 22.00 WIB.
SIMPULAN
Sebagai tradisi masyarakat Bangka yang telah dilakukan secara turun-temurun, nganggung memiliki nilai-nilai kearifan lokal yang baik dan bahkan termasuk tradisi Islami. Tradisi ini dapat dikatakan salah satu identitas Bangka, sesuai dengan slogan sepintu sedulang, yang mencerminkan sifat kegotong royongan, berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing. Nganggung atau sepintu sedulang merupakan warisan nenek moyang yang mencerminkan suatu kehidupan sosial masyarakat berdasarkan gotong-royong. Setiap bubung rumah melakukan kegiatan tersebut untuk dibawa ke masjid, surau, atau tempat berkumpulnya warga kampung.
Dalam tradisi nganggung terdapat nilai-nilai luhur universal yang dapat mendidik masyarakat sebagai masyarakat yang humanis, toleran, dan kooperatif dalam berbagai hal. Tradisi ini dapat juga menanamkan pendidikan nilai-nilai luhur yang dalam ajaran Islam justru ditekankan. Nilai-nilai tersebut seperti nilai sosial dengan mempererat silaturahmi, nilai pendidikan kejiwaan, nilai kebersamaan atau solidaritas, dan nilai estetika.
SARAN
Bagi pembaca, diharapkan tidak hanya membaca sumber dari satu refrensi, melainkan dapat mencari sumber yang lain terutama terkait nilai keislaman dalam budaya nganggung.
Bagi penulis, agar dapat lebih mengembangkan penelitian yang terkait dengan budaya nganggung, guna memperluas refrensi budaya nganggung.
Bagi masyarakat, diharapkan dapat terus diturunkan kepada generasi selanjutnya.
PUSTAKA ACUAN
Ellya Rosana.2011.MODERNISASI DAN PERUBAHAN.Jurnal TAPIs Vol.7 No.12
Fitriani.2013. http://uniqlly.multiply.com/journal/item/2.
Herdiyanti dan Jamilah Cholilah.2017.Peergeseran Modal Sosial dalam Pelaksanaan Upacara Adat Mandi Belimau.Bangka.Jurnal Society, Volume V, Nomor 2.
Muhamad Edy Waluyo.NILAI-NILAI DAN MAKNA SIMBOLIK TRADISI NGANGGUNG.Doktor Islamic Studies UIN Walisongo.Semarang.
Suparta.2017.Nilai-nilai pendiidkan islam dalam budaya nganggung.Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Syeikh Abdurrahman Sidiq.Bangka Belitung. MADANIA Vol. 21, No. 1.
Sulistia.2019.Nilai-nilai islami yang terdapat pada tradisi nganggung.FKIP Universitas Muhammadiyah Palembang.
Komentar
Posting Komentar