DESAIN INTRUKSIONAL
Hakikat Desain Pembelajaran
Pengertian Desain Pembelajaran
Desain Pembelajaran menurut Herbert Simon ( Dick dan Carey, 2006 ) Mengartikan desain sebagai proses pemecahan masalah. Tujuan sebuah desain adalah untuk mencapai solusi terbaik dalam memecahkan masalah dengan memanfaatkan sejumlah informasi yang tersedia. Desain pada dasarnya adalah suatu proses yang bersifat linear yang diawali dari perencanaan kebutuhan, kemudian mengembangkan rancangan untuk merespon kebutuhan tersebut, selanjutnya rancangan tersebut diuji cobakan dan akhirnya dilakukan proses evaluasi untuk menentukan hasil tentang evaluasi untuk menentukan hasil tentang evektivitas rancangan (desain) yang disusun. Dalam konteks pembelajaran, desain intruksional dapat diartikan sebagai proses sistematis untuk memecahkan persoalan pembelajaran melalui proses bahan-bahan pembelajaran beserta aktivitas yang harus dilakukan. Pendekatan yang dapat digunakan dalam desain pembelajaran adalah pendekatan system. Dengan demikian, suatu desain muncul karena kebutuhan manusia untuk memecahkan suatu persoalan. Melalui suatu desain orang bisa melakukan langkah-langkah yang sistematis untuk memecahkan suatu persoalan yang dihadapi. Dengan demikian suatu desain pada dasarnya adalah suatu proses yang bersifat linear yang diawali dari penentuan kebutuhan, kemudian mengembangkan rancangan untuk merespons kebutuhan tersebut, selanjutnya rancangan tersebut diujicobakan dan akhirnya dilakukan proses evaluasi untuk menentukan hasil tentang efektivitas rancangan (desain) yang disusun (Sanjaya, 2008: 64-65). Dalam arti luas, pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan sistemik, yang bersifat interaktif dan komunikatif antara pendidik (guru) denga peserta didik, sumber belajar dan lingkungan untuk menguasai kompetensi yang telah ditentukan (Arifin, 2009: 10).
Pembelajaran adalah proses, cara, menjadikan orang atau mahluk hidup belajar. Pembelajaran adalah kegiatan guru secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar (Wajdi 2017). Pembelajaran sebagai proses belajar yang dibangun oleh guru untuk mengembangkan kreativitas berpikir yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa, serta dapat meningkatkan kemampuan mengkonstruksi pengetahuan baru sebagai upaya meningkatkan penguasaan yang baik terhadap materi pembelajaran (Supriatna, 2009: 4). Desain pembelajaran sendiri menurut Shambaugh (2006) yang dikutip oleh Wina Sanjaya adalah suatu desain pembelajaran diarahkan untuk menganalisis kebutuhan siswa dalam pembelajaran kemudian berupaya untuk membantu dalam menjawab kebutuhan tersebut (Sanjaya, 2008: 67).
Pengertian Desain Intruksional
Intruksional berasal dari kata intruction yang berarti pengajaran, pelajaran, atau bahkan perintah atau intruksi (Rohani, 2004 : 68). Menurut Dailami Firdaus, intruksional berarti memberi pengetahuan atau informasi khusus dengan maksud melatih berbagai bidang pengetahuan, dalam bidang pendidkan intruksional berarti pengajaran atau pelajaran. Desain instruksional adalah cara yang sistematis dalam mengidentifikasi, mengembangkan, dan mengevaluasi seperangkat materi dan strategi yang diarahkan untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Hasil akhir dari pengembangan instruksional ialah suatu sistem instruksional, yaitu materi dan strategi belajar mengajar yang dikembangkan secara empiris dan konsisten untuk dapat mencapai tujuan instruksional tertentu.
Berdasarkan definisi mengenai desain intruksional dari beberapa ahli, didapat sebagai berikut:
Hamreus (1968) menyatakan bahwa desain intruksional merupakan proses sisteatik untuk memungkinkan tujuan umum dicapai melalui proses belajar yang efeektif. Proses yang sistematik itu dimulai dengan rumusan tujuan umum.
Buhl dan Reigeluth (1975) menyatakan bahwa desain intruksional merupakan rangkaian kegiatan yang dimaksud untuk meningkatkan kondisi-kondisi belajar agar dapat membantu peserta didik.
Rothwel dan Kazanas (2004) menyatakan bahwa desain intruksional lebih dari sekedar menciptakan instrumtasi atau alat terapi lebih terkait dengan konsep lebih luas tentang penganalisisan masalah kinerja manusia secara sistematik, mengidentifikasi penyebab masalah-masalah tersebut, pertimbanan berbagai solusi yang sesuai dengan akar masalah tersebut dan pelaksanaan pemecahan masalah engan cara yang dirancang untuk meminimalkan akibat yang tidak diharapkan dari tindakan perbaikan.
Dari beberapa definisi tersebut dapat disimpulkan desain intruksional adalah suatu proses sistematis, efektif, dan efisien dalam menciptakan intruksional untuk memecahkan masalah belajar atau peningkatan kinerja peserta didik melalui serangkaian kegiatan pengidentifikasian masalah, pengembangan dan pengevaluasian, termasuk didalamnya adalah pengembangan paket pembelajaran, kegiatan mengajar, uji coba, revisi, dan kegiatan pengevaluasian hasil belajar.
Desain intruksional sebagai suatu proses sistematik untuk menghasilkan suatu sistem intruksional yang siap digunakan merupakan proses yang panjang. Desain inttruksional dimaksud untuk membantu individu belajar lebih dari sekedar melaksanakan proses pembelajaran. Desain instruksional ini terdiri dari seperangkat kegiatan yang meliputi perencanaan, pengembangan, dan evaluasi terhadap sistem instruksional yang sedang didesain, sehingga setelah mengalami beberapa kali revisi, sistem instruksional tersebut dapat memuaskan hati pendesainnya. Dalam konteks pembelajaran, desain instruksional dapat diartikan sebagai proses yang sistematis untuk memecahkan persoalan pembelajaran melalui proses perencanaan bahan-bahan pembelajaran beserta aktivitas yang harus dilakukan, perencanaan sumber-sumber pembelajaran yang dapat digunakan serta perencanaan evaluasi keberhasilan (Sanjaya, 2008 : 66).
Desain Instruksional sebagai upaya untuk meningkatkan hasil belajar dengan menggunakan pendekatan sistem Instruksional. Pendekatan sistem dalam Instruksional lebih produktif untuk semua tujuan Instruksional, di mana setiap komponen bekerja dan berfungsi untuk mencapai tujuan Instruksional. Komponen seperti instruktur, peserta didik, materi, kegiatan Instruksional, sistem penyajian materi, dan kinerja lingkungan belajar saling berinteraksi dan bekerja sama untuk mewujudkan hasil Instruksional pembelajaran yang dikehendaki.
Dari beberapa pengertian diatas, maka desain instruksional berkenaan dengan proses pembelajaran yang dapat dilakukan siswa untuk mempelajari suatu materi pelajaran yang di dalamnya mencakup rumusan tujuan yang harus dicapai atau hasil belajar yang diharapkan, rumusan strategi yang dapat dilaksanakan untuk mencapai tujuan termasuk metode, teknik, dan media yang dapat dimanfaatkan serta teknik evaluasi untuk mengukur atau menentukan keberhasilan evaluasi untuk mengukur atau menentukan keberhasilan pencapaian tujuan.
Kriteria Desain Intruksional
Desain intruksional yang baik harus memiliki beberapa kriteria di antaranya:
Berorientasi pada siswa
Mendesain pembelajaran perlu diawali dengan melakukan studi pendahuluan tentang siswa. Beberapa hal yang perlu dipahami tentang siswa di antaranya:
1) Kemampuan dasar
2) Gaya belajar.
Berpijak pada pendekatan sistem
Sistem adalah satu kesatuan komponen yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan. Melalui pendekatan system, bukan saja dapat diprediksi keberhasilannya, akan tetapi juga akan terhindar dari ketidakpastian. Hal ini disebabkan melalui pendekatan system dari awal sudah diantisipasi berbagai kendala yang mungkin dapat menghambat terhadap pencapaian tujuan.
Teruji secara empiris
Hubungan Perencanaan dan Desain Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran (Lesson Plans) berbeda dengan Desain Pembelajaran (Instructional Design), namun keduannya memiliki hubungan yang sangat erat sebagai program pembelajaran. Perencanaan pembelajaran disusun untuk kebutuhan guru dalam melaksanakan tugas mengajarnya. Dengan demikian, perencanaan merupakan kegiatan menerjemahkan kurikulum sekolah kedalam kegiatan pembelajaran di dalam kelas, (Shambaugh dan Magliaro, 2006). Walaupun perencanaan pembelajaran berkaitan dengan desain pembelajaran, keduanya memiliki posisi yang berbeda. Perencanaan lebih menekankan pada proses pengembangan atau penerjemahan suatu kurikulum sekolah, sedangkan desain menekankan pada proses merancang program pembelajaran untuk membantu proses belajar siswa.
Model Desain Intruksional Pembelajaran
Model desain pembelajaran yang dikembangkan oleh para ahli. Dibawah ini disajikan beberapa diantaranya:
Model Kemp
Model desain system instruksional yang dikembangkan oleh Kemp merupakan model yang membentuk siklus. Menurut Kemp pengembangan desain system pembelajaran terdiri atas komponen-komponen, yang dikembangkan sesuai dengan kebutuhan, tujuan dan berbagai kendala yang timbul (Sanjaya, 2008:71-72). Model sistem instruksional yang dikembangkan Kemp ini tidak ditentukan dari komponen mana seharusnya guru memulai proses pengembangan. Mengembangkan system instruksional, menurut Kemp dari mana saja bisa, asal saja urutan komponen tidak diubah, dan setiap komponen itu memerlukan revisi untuk mencapai hasil yang maksimal. Komponen-komponen dalam suatu desain instruksional menurut Kemp adalah:
Hasil yang ingin dicapai
Analisis tes mata pelajaran
Tujuan khusus belajar
Aktivitas belajar
Sumber belajar
Layanan pendukung
Evaluasi belajar
Tes awal
Karakteristik belajar
Model Banathy
Model ini memandang bahwa penyusunan system instruksional dilakukan melalui tahapan-tahapan yang jelas. Terdapat 6 tahap dalam mendesain suatu program pembelajaran yakni (Wasis D Dwiyogo, 2016:66):
Menganalisis dan merumuskan tujuan, baik tujuan pengembangan system maupun tujuan spesifik. Tujuan merupakan sasaran dan arah yang harus dicapai oleh siswa atau peserta didik.
Merumuskan kriteria tes yang sesuai dengan tujuan yang hendak dicapai. Item tes dalam tahap ini dirumuskan untuk menilai perumusan tujuan. Melalui rumusan tes dapat meyakinkan kita bahwa setiap tujuan ada alat untuk menilai keberhasilannya.
Menganalisis dan merumuskan kegiatan belajar, yakni kegiatan mengiventasikan seluruh kegiatan belajar mengajar, menilai kemampuan penerapannya sesuai dengan kondisi yang ada serta menentukan kegiatan yang mungkin dapat diterapkan.
Merancang system, yaitu kegiatan menganalisis system menganalisis setiap komponen system, mendistribusikan dan mengatur penjadwalan.
Mengimplementasikan dan melakukan control kualitas system, yakni melatih sekaligus menilai efektivitas system, melakukan penempatan dan melaksanakan evaluasi.
Mengadakan perbaikan dan perubahan berdasarkan hasil evaluasi
Hasil yang diperoleh dari evaluasi kemudian merupakan umpan balik (feedback) untuk keseluruhan sistem, sehingga perubahan-perubahan, jika diperlukan dapat dilakukan untuk memperbaiki sistem Pembelajaran.
Model Dick and Cery
Model dick and cery harus dimulai dengan mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum. Menurut model ini, sebelum desainer merumuskan tujuan khusus yakni performance goals, perlu menganalisis pembelajaran serta menentukan kemampuan awal siswa terlebih dahulu. Criterion Reference Test, artinya tes yang mengukur kemampuan penguasaan tujuan khusus. Untuk mencapai tujuan khusus selanjutnya dikembangkan strategi pembelajaran, yakni skenario pelaksanaan pembelajaran yang diharapkan dapat mencapai tujuan secara optimal, setelah itu dikembangkan bahan-bahan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan. Langkah akhir dari desain adalah melakukan evaluasi, yakni evaluasi formatife dan evaluasi summative (Sanjaya, 2008: 75).
Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional)
Model PPSI (Prosedur Pengembangan Sistem Intruksional) adalah model yang dikembangkan di Indonesia untuk mendukung pelaksanaan kurikulum 1975. PPSI berfungsi untuk mengefektifkan perencanaan dan pelaksanaan program pengajaran secara sistemis, untuk dijadikan sebagai pedoman bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar. PPSI terdiri dari 5 tahap yakni (Sanjaya, 2008: 75-77):
Merumuskan tujuan, yakni kemampuan yang harus dicapai oleh siswa. Ada 4 syarat dalam perumusan tujuan ini yakni tujuan harus operasional, artinya tujuan yang dirumuskan harus spesifik atau dapat diukur, berbentuk hasil belajar bukan proses belajar, berbentuk perubahan tingkah laku dan dalam setiap rumusan tujuan hanya satu bentuk tingkah laku.
Mengembangkan alat evaluasi, yakni menentukan jenis tes dan menyusun item soal untuk masing-masing tujuan. Alat evaluasi disimpan pada tahap 2 setelah perumusan tujuan untuk meyakinkan ketepatan tujuan sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan.
Mengembangkan kegiatan belajar-mengajar, yakni merumuskan semua kemungkinan kegiatan belajar dan menyeleksi kegiatan belajar perlu ditempuh.
Mengembangkan program kegiatan pembelajaran yakni merumuskan materi pelajaran, menetapkan metode dan memilih alat dan sumber pelajaran.
Pelaksanaan program, yakni kegiatan mengadakan prates, menyampaikan materi pelajaran, mengadakan psikotes, dan melakukan perbaikan.
Asumsi Dasar Desain Intruksional
Asumsi Dasar Desain Instruksional Terdapat banyak model desain instruksional yang diciptakan banyak pakar.Para pengguna setiap model memilih di antara model-model tersebut berdasarkan pandangan masing-masing tentang kesesuai dan kebutuhan di tempat kerjanya. Dipihak lain, para pencipta model tersebut memiliki asumsi dasar yang membawa pikiran mereka pada saat penciptaanya.
Berikut ini adalah beberapa asumsi dasar yang digunakan dalam desain intruksional. Gagne, Wager, Golas, dan Keller (2005 hal.2-3) mengemukakan enam asumsi dasar tersebut yang diuraikan secara singkat sebagai berikut.
Desain intruksional dimaksudkan untuk membantu individu belajar lebih dari sekedar melaksanakan proses pengajaran. Asumsi dasar pertama ini menyatakan bahwa desain intruksional membantu peserta didik dalam proses belajar yang terarah pada pencapaian hasil belajar dan peningkatan kinerja peserta didik , bukan sekedar alat bantu proses mengajar bagi kepentingan pengajar.
Belajar adalah proses kompleks yang dipengaruhi oleh banyak variabel yang saling terkait seperti ketekunan, waktu belajar, kualitas intruksional, kecerdasan, bakat, dan kemampuan belajar peserta didik. Suatu model desain intruksional tidak dapat hanya pokus pada satu variabel intruksional saja, misalnya metode intruksionalatau tes hasil belajarnya saja. Asumsi dasar ini menekankan pada prinsip bahwa proses desain intruksional menggunakan pendekatan sistem (sistem approach) yang merangkaikan setiap komponen intruksional secara sistemik dan sistematik.
Model intruksional dapat diaplikasikan pada berbagai tingkatan (levels), seperti perencanaan intruksional untuk kegiatan suatu hari, beberapa hari lokakarya, perkuliahan satu semester untuk satu mata kuliah, atau program perkuliahan untuk empat tahun pada program studi. Desain intruksional dapat menjadi upaya individu atau melibatkan satu tim pendesain (dsigners), seperti ahli materi, ahli desain grafis, ahli evaluasi pendidikan, dan tenaga prouksi media cetak dan atau multimedia, dari proyek berskala kecil hingga berskala besar.
Desain adalah proses interaktif dengan melibatkan peserta didik.asumsisi ini menjelaskan bahwa desain intruksional menganut prinsip learner centered atau berorientasi pada peserta didik sehingga peserta didik ikut terlibat dalam proses desain intruksioanal, baik pada saat awal dalam mengidentifikasi kebutuhan dan masalah intruksional maupun pada proses selanjutnya, sehingga evaluasi formatif dan revisi. Keterlibatan peserta didik dalam proses desain intruksional menjamin relevansi produknya, yaitu model bahan intruksional atau sistem intruksional.
Desain intruksional sendiri adalah proses yang terdiri dari sebuah subproses, mulai dari perumusan tujuan intruksional umum hingga evaluasi formatif untuk menghasilkan program atau produk intruksional. Asumsi ini mengingatan setiap orang yang terlibat dalam proses desain intruksional bahwwa yang berbentuk sebagai suatu sistem bukan hanya menyangkut proses pelaksanaan kegiatan intruksional saja, tetapi juga proses desain intruksional yang mendahuluinya.
Beberapa jenis hasil belajar yang diharapkan menuntut pula perbedaan jenis kegiatan intruksional. Asumsi ini menyatakan bahwa hasil belajar yang diharapkan dikuasai peserta didik dan kemudian didskripsikan dalam tujuan intruksional umum dan khusus, merupakan satu-satunya acuan untuk melakukan langkah-langkah desain intruksional. Mengapa ? keberhasilan proses desain instruksional pada akhirnya ditentukan oleh tercapai tidaknya tujuan instruksional yang dilaksanakn berdasarkan hasil proses desain tersebut.
Setiap orang yang berpengalaman menjadi praktisi profesional dalam kegiatan instruksional seperti para pengajar di berbagai jenjang dan jenis pendidikan, tentu memiliki kepercayaan tentang bagaimana peserta didik belajar. Kepercayaan itu bersumber dari pengalaman pribadi, refleksi diri, diskusi dengan teman sejawat, pengamatan terhadap peserta didik yang diajar, komentar dari peserta didik yang diajar, membaca hasil penelitian sendiri dan orang lain serta berbagai buku tentang belajar dan pembelajaran atau kegiatan instruksional. Dari kepercayaan seperti itu terdapat beberapa prinsip yang dapat digunakan oleh pedesain instruksional, misalnya prinsip contiguity atau keberdampingan. Prinsip ini menyatakan bahwa setiap stimulus harus ditampilkan secara simultan dengan respons yang ideal. Prinsip ini mengisyaratkan keharusan bagi pendesain instruksional memperlihatakan contoh praktek yang baik bersamaan dengan deskripsi konsep atau teori yang sedang diajarkanya dalam bentuk kegiatan sesungguhnya atau minimal berbentuk media. Tanpa pemberian contoh kongkret atau praktik yang baik maka sulit bagi peserta didik untuk memahami materi yang diajarkan padanya. Prinsip lain adalah repetition (pengulangan). Prinsip ini menyatakan bahwa stimulus dan respons perlu diulang atau dipraktikan hingga respons yang ideal dapat ditampilkan oleh peserta didik. Frekuensi pengulangan itu berfariasi tergantung pada banyak faktor, seperti jenis dan tingkatan kompetensi yang ingin dicapai peerta didik, karakteristik peserta didik, karakteristik materi yang diajarkan, dan strategi instruksional.Prinsip pengulangan ini diterapkan secara konsisten dalam desain instruksioanl yang menggunakan teknologi informasi atau computer untuk kegoatan instruksional pada hampir semua bidang pengetahuan seperti matematika, bahasa, fisika, biologi, kimia, ilmu-ilmu social, keterampilan gerak, dan sikap perilaku. Prinsip lain yang seringkali digunakan oleh pendesain instruksional adalah social-cultureal principles of learning atau prinsip belajar social-budaya yang menyangkut kecepatan kegiatan instruksional, kebiasaan peserta didik belajar, urutan materi, penggunaan media dan metode, dan relevansi atau manfaat materi instruksional. Berbagai variabel tersebut menjadi bahan pertimbangan penting pada saat proses desain instruksional. Dan masih banyak prinsip instruksional yang perlu dijadikan acuan oleh pendesain instruksional sebagaimana yang telah dijelaskan pada prinsip-prinsip desain instruksional.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, Zainal. 2009. Evaluasi Pembelajaran, Jakarta : Dirjen Pendidikan Islam
Departemen Agama RI.
Rohani, Ahmad. 2004. Pengelolaan Pengajaran, Jakarta : Rineka Cipta
Sanjaya, Wina. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran, Jakarta :
Kencana Prenada Media Group.
Shambaugh, N., & Magliaro, S.G. 2006. Intruktional Design: A systematic
approach for reflective practice. New York: Pearson.
Supriatna, D. 2009. Pengenalan Media Pembelajaran. Bahan ajar untuk Diklat E
Training PPPPTK dan PLB. Bandung. PPPPTK dan PLB
Suparman, Atwi. 2014. Desain Intruksional Modern. Jakarta: PT. Gelora Aksara
Pratama.
Dwiyogo, Wasis D. 2016. Model Rancangan Pembelajaran dan Hasil Belajar
Pemecahan Masalah. Malang: Wineka Pedia.
Sumber Lain
https://www.scribd.com/document/353051636/Makalah-desain-Instruksional-docx
https://www.slideshare.net/coprallzsangalaz/makalah-asumsi-dasar-dan-definisi-desain-instruksional-project-minerva-instructional-system-design
Komentar
Posting Komentar