ANALISIS KEMAMPUAN MENGGUNAKAN EJAAN BAHASA INDONESIA YANG DISEMPURNAKAN DALAM KALIMAT SISWA KELAS III SD

 Kajian Teori

Ejaan 

Menurut Badudu (1985: 31), ejaan adalah perlambangan fonem dengan huruf. Dalam sistem suatu bahasa ditetapkan bagaimanakah fonem-fonem bahasa itu dilambangkan. Lambang itu dinamakan huruf. Selain itu, perlambangan fonem dengan huruf, dalam sistem ejaan termasuk juga (1) ketetapan tentang bagaimana satuan-satuan morfologi seperti kata dasar, kata ulang, kata majemuk, kata berimbuhan, dan partikel-partikel dituliskan, dan (2) ketetapan tentang bagaimana menuliskan kalimat dan bagian-bagian kalimat dengan pemakaian tanda baca seperti titik, koma, titik koma, titik dua, tanda kutip, tanda tanya, tanda seru. Mustakim (1994: 128) mengemukakan bahwa ejaan adalah ketentuan yang mengatur penulisan huruf menjadi satuan yang lebih besar berikut penggunaan tanda bacanya.

Ejaan yang digunakan dalam bahasa Indonesia saat ini dikenal dengan sebutan ejaan yang disempurnakan. Ejaan ini ditetapkan pada tahun 1972. Ejaaan yang disempurnakan ini berlaku sejak tahun 1972. Ejaan ini menggantikan ejaan sebelumnya, seperti ejaan Ch. A Van Ophuijsen (1901), ejaan Soewandi (1947) dan ejaan 1966. 

Pada tanggal 12 Oktober 1972, panitia pengembangan bahasa Indonesia, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, menerbitkan buku “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia Yang Disempurnakan” dengan penjelasan kaidah penggunaan yang lebih luas. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dengan surat keputusan No. 0196/ 1975 memberlakukan “Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah”. 

Ejaan yang disempurnakan ini terdiri dari atas lima bab, yaitu (1) pemakaian huruf, (2) pemakaian huruf kapital dan huruf miring, (3) penulisan kata, (4) penulisan unsur serapan, dan (5) tanda baca.

Pemakaian Huruf 

Pemakaian huruf dalam ejaan yang disempurnakan dalam bahasa Indonesia terdiri atas pemakaian huruf abjad, huruf vokal, huruf konsonan, huruf diftong, dan gabungan huruf konsonan. Pemakaian huruf tersebut disesuaikan dengan fungsinya. Pemakaian huruf abjad dalam bahasa Indonesia terdiri atas 26 huruf, yaitu dari huruf A-Z. Sementara itu, pemakaian huruf yang melambangkan vokal dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas lima huruf, yaitu a, u, i, e, dan o. Pemakaian huruf vokal dalam ejaan bahsa Indonesia dapat digunakan di awal, tengah, dan akhir kata, misalnya pada kata api, padi, lusa, enak petak, sore, simpan, murni, kota, radio, ulang, iu dan sebagainya Huruf yang melambangkan konsonan dalam ejaan bahasa Indonesia terdiri atas 21 huruf. Pemakaian huruf konsonan dalam ejaan bahasa Indonesia juga digunakan pada awal, tengah, dan akhir kata, seperti pada kata bahasa, kata, tiga, balig dan lain-lain. Huruf diftong dalam bahasa Indonesia dilambangkan dengan ai, au, dan oi. Pemakaian huruf diftong juga digunakan di awal, tengah, dan akhir kata, seperti pada kata syaitan, pandai, aula, saudara, harimau, boikot, amboi, dan sebagainya. Dalam bahasa Indonesia terdapat empat gabungan huruf yang melambangkan konsonan dalam bahasa Indonesia, yaitu kh, ng, ny, dan sy. Pemakaian gabungan konsonan tersebut dapat dipakai pada awal, tengah, dan akhir kata seperti kata khusus, akhir, ngilu, bangun, senang, nyata, hanyut, syarat, isyarat dan lain sebagainya. 

Pemakaian Huruf Kapital dan Huruf Miring 

Huruf kapital atau huruf besar merupakan huruf yang ditulis atau dicetak dengan pemakaian huruf besar. Pemakaian huruf kapital disesuaikan dengan fungsinya. Huruf kapital memiliki beberapa fungsi, di antaranya sebagai (1) huruf pertama kata pada awal kalimat, (2) huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama petikan langsung, (3) huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama dalam ungkapan yang berhubungan dengan nama Tuhan dan kitab suci, termasuk kata ganti untuk Tuhan, (4) huruf kapital dipakai sebagai huruf pertama nama gelar kehormatan, keturunan, dan keagamaan yang diikuti nama orang, (5) huruf kapital sebagai huruf pertama unsur nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang atau yang dipakai sebagai pengganti nama orang tertentu, nama instansi, atau nama tempat.

Penulisan Kata 

Hal-hal yang diuraikan dalam penulisan kata ini menyangkut petunjuk bagaimana menuliskan kata dasar, kata turunan, bentuk ulang, gabungan kata, kata ganti ~ku, ~kau, ~mu, dan ~nya, kata ganti depan di, ke, dan dari, kata si dan sang, partikel, singkatan dan akronim, angka dan lambang bilangan. 

Kata dasar adalah kata yang ditulis sebagai satu kesatuan, misalnya “buku itu sangat tebal”. 

Kata turunan memiliki beberapa fungsi, yaitu (1) imbuhan (awalan, sisipan, akhiran) ditulis serangkai dengan kata dasarnya, (2) jika bentuk dasar berupa gabungan kata, awalan atau akhiran ditulis serangkai dengan kata yang 16 langsung mengikuti atau mendahuluinya, (3) jika salah satu unsur gabungan kata hanya dipakai dalam kombinasi, gabungan kata ditulis serangkai.

Kata ulang adalah bentuk ulang ditulis secara lengkap dengan menggunakan tanda hubung. 

Gabungan kata memiliki beberapa fungsi yaitu (1) gabungan kata yang lazim disebut kata majemuk, termasuk istilah khusus, unsur-unsurnya ditulis terpisah, (2) gabungan kata, termasuk istilah khusus, yang mungkin menimbulkan kesalahan pengertian dapat ditulis dengan tanda hubung untuk menegaskan pertalian unsur yang bersangkutan, (3) gabungan kata ditulis serangkai.

Konsep Siswa

Pengertian Siswa 

Siswa atau peserta didik menurut ketentuan umum UndangUndang RI No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang tersedia pada jalur, jenjang, dan jenis pendidikan tertentu (Republik Indonesia: 65). Dengan demikian peserta didik adalah orang yang mempunyai pilihan untuk menempuh ilmu sesuai dengan cita-cita dan harapan masa depan.

Oemar Hamalik mendefinisikan peserta didik sebagai suatu komponen masukan dalam sistem pendidikan, yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia yang berkualitas sesuai dengan tujuan pendidikan Nasional. Menurut Abu Ahmadi peserta didik adalah sosok manusia sebagai individu/pribadi (manusia seutuhnya). Individu diartikan “orang seorang tidak tergantung dari orang lain, dalam arti benar-benar seorang pribadi yang menentukan diri sendiri dan tidak dipaksa dari luar, mempunyai sisfatsifat dan keinginan sendiri”. Sedangan Hasbullah berpendapat bahwa siswa sebagai peserta didik merupakan salah satu input yang ikut menentukan keberhasilan proses Pendidikan (Hasbullah: 121). Tanpa adanya peserta didik, sesungguhnya tidak akan terjadi proses pengajaran. Sebabnya ialah karena peserta didiklah yang membutuhkan pengajaran dan bukan guru, guru hanya berusaha memenuhi kebutuhan yang ada pada peserta didik.

Macam-macam Kebutuhan Siswa

  Guru yang efektif perlu memahami pertumbuhan, perkembangan serta kebutuhan siswa secara menyeluruh. Pemahaman ini akan memudahkan guru untuk menilai kebutuhan siswa dan merencanakan ujuan, bahan, prosedur belajar mengajar dengan tepat. Berikut analisisanalisis yang berkaitan dengan kebutuhan siswa:

Kebutuhan siswa menurut para ahli Dalam tahap-tahap perkembangan individu siswa, dan satu aspek yang paling menonjol ialah adanya bermacam ragam kebutuhan yang meminta kepuasan. Beberapa ahli telah mengadakan analisis tentang jenis-jenis kebutuhan siswa, antara lain: Prescott, mengadakan klasifikasi kebutuhan siswa sebagai berikut:

Kebutuhan-kebutuhan fisiologis: bahan-bahan dan keadaan yang esensial, kegiatan dan istirahat, kegiatan seksual. 

Kebutuhan-kebutuhan sosial atau status: menerima dan diterima, dan menyukai orang lain. 

Kebutuhan-kebutuhan ego atau integrative: kontak dengan kenyataan, simbolis progresif, menambah kematangan diri sendiri, keseimbangan antara berhasil dan gagal, menemukan individualitasnya sendiri. 

Sedangkan Maslaw, menyatakan bahwa kebutuhan-kebutuhan fisiologi akan timbul setelah kebutuhan-kebutuhan psikologis terpenuhi. Ia mengadakan klasifikasi kebutuhan dasar siswa sebagai berikut.

 a) Kebutuhan-kebutuhan akan keselamatan

 b) Kebutuhan-kebutuhan memiliki dan mencintai

 c) Kebutuhan-kebutuhan akan penghargaan 

d) Kebutuhan-kebutuhan untuk menonjolkan diri 

Maslaw yakin, bahwa ada hubungan dalam pemuasan kebutuhan dan berjalan secara sistematis, misalnya: setelah kebutuhan lapar dipenuhi baru timbul kebutuhan senang akan makan.Kebutuhan keselamatan timbul setelah kebutuhan fisiologis. Misalnya tiap orang berusaha menjaga keselamatan dan keamanan dirinya dari gangguan luar, atau situasi-situasi yang tidak menyenangkan. Kebutuhan akan penghargaan, ialah keinginan seseorang untuk penilaian yang baik dari orang lain, ingin dihormati, merasa mampu, percaya atas kemampuannya menghadapi dunia ini. Kebutuhan menonjolkan diri adalah kebutuhan yang tertinggi, ingin dianggap orang yang terbaik, ingin menjadi orang ideal, dan lain-lain (Oemar Hamalik:24).

3. Proses Pembelajaran 

a. Pengertian Pembelajaran

Belajar dan pembelajaran adalah dua hal yang saling berhubungan erat dan tidak dapat dipisahkan dalam kegiatan eduktif. Belajar dan pembelajaran dikatakan sebuah bentuk edukasi yang menjadikan adanya suatu interaksi antara guru dan siswa. Pembelajaran pada hakikatnya adalah suatu proses, yaitu proses mengatur, mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar peserta didik sehingga dapat menumbuhkan dan mendorong peserta didik melakukan proses belajar. Pembelajaran juga dikatakan sebagai proses memberikan bimbingan atau bantuan kepada peserta didik dalam melakukan proses belajar. Peran guru sebagai pembimbing bertolak dari banyak peserta didik yang bermasalah. Dalam belajar tentunya banyak perbedaan, seperti adanya peserta didik yang mampu mencerna materi pelajaran, ada pula peserta didik yang lambat dalam mencerna materi pelajaran. Kedua perbedaan inilah yang menyebabkan guru mampu mengatur strategi dalam pembelajaran yang sesuai dengan keadaan peserta didik. Oleh karena itu, jika hakikat belajar adalah “perubahan”, maka hakikat pembelajaran adalah “pengaturan” (Bahri, Syaiful Djamarah: 39).

Menurut Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, bahwa pembelajaran adalah proses interaksi pendidik dengan peserta didik dan sumber belajar yang berlangsung dalam suatu lingkungan belajar.( Republik Indonesia:6). pembelajaran dipandang sebagai suatu proses interaksi yang melibatkan komponen-komponen utama, yaitu peserta didik, pendidik, dan sumber belajar yang berlangsung dalam suatu lingkungan belajar, maka yang dikatakan dengan proses pembelajaran adalah suatu sistem yang melibatkan satu kesatuan komponen yang saling berkaitan dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan secara optimal sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Proses pembelajaran ditandai dengan adanya interaksi edukatif yang terjadi, yaitu interaksi yang sadar akan tujuan. Interaksi ini berakar dari pihak pendidik (guru) dan kegiatan belajar secara paedagogis pada diri peserta didik, berproses secara sistematis melalui tahap rancangan, pelaksanaan, dan evaluasi. Pembelajaran tidak terjadi seketika, melainkan berproses melalui tahapan-tahapan tertentu. Dalam pembelajaran, pendidik menfasilitasi peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Dengan adanya interaksi tersebut maka akan menghasilkan proses pembelajaran yang efektif sebagaimana yang telah diharapkan. (Muh. Sain Hanafy:74).

Kajian Penelitian Relevan

Wiwik Agustriana (2011) ”Analisis Kesalahan Penggunaan Tanda Baca Pada Cerita Pendek di Surat kabar Haluan Kepri. Dengan hasil penelitian kesalahan penggunaan tanda baca (Tanya) pada penulisan judul cerpen dimana-dimana yang seharusnya menggukan tanda tanya (?). 33 Perbedaan dari penelitian terdahulu dengan penelitian ini adalah penelitian terdahulu menganalisis hanya pada penggunaan tanda bacanya, sedangkankan penelitian ini menganalisis berupa ejaan. Ejaan mencakup pemakaian huruf, penulisan kata, dan penggunaan tanda baca. 

Parno, Kemampuan Menggunakan EYD Dalam Penulisan Cerita Siswa Kelas VI SD Kinandang 3 Kecamatan Bendo Kabupaten Mangetan Tahun 2006/2007 dan hasil penelitian menunjukan bahwa, kemampuan menggunakan huruf kapital memperoleh hasil baik dengan nilai rata-rata sebesar 8,0. (2) kemampuan menggunakan kata depan memperoleh hasil cukup dengan nilai rata-rata 6,8. (3) kemampuan menggunakan partikel memperoleh hasil baik dengan nilai rata-rata 7,1. (4) kemampuan menggunakan tanda baca memperolah hasil baik dengan nilai rata-rata 7.3. Perbedaan dari penelitian terdahulu dan penelitian ini adalah penelitian terdahulu sudah memberikan nilai rata-rata pada siswa sedangkan penelitian ini belum mencapai nilai rata-rata

Kerangka Berpikir

Setiap siswa memiliki cara tersendiri dalam belajar. Cara belajar yang termudah dan tercepat disebut gaya belajar. Gaya belajar berdasarkan preferensi sensori ada tiga macam yaitu, visual, auditori dan kinestetik. Gaya belajar visual mengandalkan indera pengelihatnya dalam belajar. Gaya belajar auditori mengandalkan indera pendengarannya dalam belajar. Gaya belajar kinestetik mengandalkan keaktifan bergerak dan melakukan dalam belajar. Ketiga macam gaya belajar memiliki ciri yang khas satu sama lain.

























BAB III

METODE PENELITIAN

Jenis Penelitian

Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode kualitatif yang bersifat deskriptif berdasarkan jenisnya penelitian ini adalah penelitian lapangan (filed research) dalam arti bahwa penelitian ini berfokus pada fenomena yang ada kemudian dipahami dan dianalisis secara mendalam.Tujuannya adalah untuk mempelajari secara intensif tentang latar belakang keadaan sekarang, dan interaksi lingkungan sesuatu unit sosial, individu, kelompok, lembaga atau masyarakat. (Cholid Narbuko:46).

Menurut Strauss dan Corbin dalam buku V. Wiratna Sujarwen, penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang menghasilkan penemuan-penemuan yang tidak dapat dicapai (diperoleh) dengan menggunakan prosedur-prosedur statistik atau cara-cara lain dari kuantifikasi (pengukuran) (V. Wiratna Sujarweni :6). Penelitian kualitatif secara umum dapat digunakan untuk penelitian tentang kehidupan masyarakat, sejarah, tingkah laku, fungsionalisasi, organisasi, aktivitas sosial, dan lain-lain.

Kemudian penelitian kualitatif ini bersifat deskriptif, yaitu data yang terkumpul berbentuk kata-kata, gambar bukan angka-angka. Walaupun ada angka-angka, sifatnya hanya sebagai penunjang. Data yang di peroleh, meliputi transikip interview, catatan lapangan, foto, dokumen pribadi dan lain-lain.Metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, analisis data bersifat induktif dan hasil penelitian kualitatif lebih menekankan “makna”daripada “generalisasi” (Sugiyono: 1).

Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat Penelitian 

Tempat penelitian dilakukan di SD Negeri 14 Mendo Barat, yaitu kelas 3. 

Waktu Penelitian

 Waktu penelitian dilaksanakan mulai tanggal 3 maret – 5 maret.

Teknik Pengumpulan Data 

Teknik pengumpulan data menjelaskan cara yang digunakan untuk mengumpulkan data. (Barnawi dan M. Arifin : 191). Dalam rangka mengumpulkan data dari lapangan penelitian, maka penulis menggunakan beberapa teknik pengumpulan data. Adapun teknik yang digunakan adalah sebagai berikut: 

Observasi 

Observasi atau pengamatan merupakan suatu teknik atau cara mengumpulkan data dengan jalan mengadakan pengamatan terhadap kegiatan yang sedang berlangsung. (Djam’an Satori dan Aan Komaroiah : 105). Observasi juga merupakan suatu kegiatan mendapatkan informasi yang diperlukan untuk menyajikan gambaran riil suatu peristiwa atau kejadian untuk menjawab pertanyaan penelitian, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut (V. Wiratna Sujarweni:32).

Wawancara

Wawancara adalah salah satu instrumen yang digunakan untuk menggali data secara lisan. Hal ini haruslah dilakukan secara mendalam agar kita mendapatkan data yang valid dan detail. Wawancara juga merupakan proses memperoleh penjelasan untuk mengumpulkan informasi dengan menggunakan cara tanya jawab bisa sambil bertatap muka ataupun tanpa tatap muka yaitu melalui media telekomunikasi antara pewawancara dengan orang yang diwawancarai. (Sugiyon :121).

Teknik Keabsahan Data 

Uji keabsahan data kualitatif meliputi uji credibility (validitas interbal), transferability (validitas eksternal), dependability (reliabilitas), dan confirmability (objektivitas).

Pengujian Credibility Bahwa uji kreadibilitas data atau kepercayaan terhadap data penelitian kualitatif antara lain dilakukan dengan perpanjang pengamatan, peningkatan ketekunan dalam penelitian, triangulasi, diskusi dengan teman sejawat, analisis kasus negatif, dan member check:

Triangulasi sumber, yaitu untuk menguji kredibilitas data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. 

Triangulasi teknik, dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda.

Triangulasi waktu, dapat dilakukan dengan cara pengecekan dengan wawancara, observasi atau teknik lain dalam waktu dan situasi yang berbeda. 

Pengujian Transferability Bahwa uji transferability supaya orang lain dapat memahami hasil penelitian kualitatif sehingga ada kemungkinan untuk menerapkan hasil penelitian tersebut, maka peneliti dalam membuat laporannya harus memberi uraian yang rinci, jelas, sistematis, dan dapat dipercaya.

Pengujian Dependability Dalam penelitian kualitatif, uji dependability dilakukan dengan audit terhadap keseluruhan proses penelitian. Sering terjadi penelitian tidak melakukan proses penelitian ke lapangan, tetapi bisa memberi data. Penelitian seperti ini perlu diuji dependabilitynya. Kalau proses penelitian tidak dilakukan tetapi datanya ada, maka penelitian tersebut tidak reliabel atau dependabel.

Pengujian Konfirmability Dalam penelitian kualitatif, uji konfirmability mirip dengan uji dependability, sehingga pengujinya dapat dilakukan secara bersamaan. Menguji konfirmability berarti menguji hasil penelitian, dikaitkan dengan proses yang dilakukan. Bila hasil penelitian merupakan fungsi dan proses penelitian yang dilakukan, maka proses penelitian tersebut telah memenuhi standar konfirmability.

Teknik Analisis Data

Menurut Mudjihardjo analisis data adalah sebuah kegiatan untuk mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberi kode atau tanda, dan mengkategorikannya sehingga diperoleh suatu temuan berdasarkan fokus atau masalah yang ingin dijawab. Melalui serangkaian aktivitas tersebut, data kualitatif yang biasanya berserakan dan bertumpuk-tumpuk bisa disederhanakan untuk akhirnya bisa dipahami dengan mudah. Setelah data dikumpulkan kemudian dianalisis. Analisis data merupakan bagian sangat penting dalam penelitian. Dalam penelitian ini penulis menggunakan analisis data penelitian kualitatif. penelitian kualitatif dapat dilakukan melalui langkah-langkah sebagai berikut : 

Reduksi Data 

(Data Reduction) Dalam mereduksi data, setiap peneliti akan dipadukan oleh tujuan yang akan dicapai. Tujuan utama dari penelitian kualitatif adalah pada temuan. Oleh karena itu, apabila peneliti dalam melakukan penelitian menemukan segala sesuatu yang dipandang asing, tidak dikenal, belum memiliki pola, justru itulah yang harus dijadikan perhatian peneliti dalam melukukan reduksi data. 

Penyajian Data (Data Display) 

Dengan mendisplaykan data, maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi dan merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut.

Penarikan Kesimpulan dan Verifikasi (Conclusions: Drawing/Verifikasi) 

Langkah ketiga dalam analisis data dalam penelitian kualitatif adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan awal yang dikemukan masih bersifat sementara, dan akan mengalami perubahan apabila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang ditemukan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konssisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. Dengan demikian kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal bahwa masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat semetara dan akan berkembang setelah penelitian berada di lapangan.



















DAFTAR PUSTAKA

Alfauzan Amin, Metode Pembelajaran Agama Islam, Cet-1, IAIN Bengkulu, 2015.

Amin Kuneifi Elfachmi, Pengantar Pendidikan (Erlangga, 2016).

Badudu, J.S. 1985. Cakrawala Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Bahri, Syaiful Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, (Jakarta: Rineka Cipta, 2006).

Barnawi dan M. Arifin, Teknik Penulisan Karya Ilmiah (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2015).

Cholid Narbuko, Metodologi Penelitian, (Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2009).

Djam’an Satori dan Aan Komaroiah, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2013).

Hasbullah, Otonomi Pendidikan, (Jakarta: PT Rajawali Pers, 2010).

Hera Lestari Mikarsa, Dkk., Pendidikan AnakDi SD (Jakarta: Universitas Terbuka, 2007).

Keraf, Gorys. 2010. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: Gramedia.

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan, (Bandung: PT Rosda Karya, 2003), edisi revisi.

Muh. Sain Hanafy, Jurnal Pendidikan: Konsep Belajar dan Pembelajaran, Lentera Pendidikan, Vol. 17 No. 1 Juni 2014: 66-79.

Mustakim. 1994. Membina Kemampuan Berbahasa: Panduan Ke Arah Kemahiran Berbahasa. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Nuradi, Membaca Cepat dan Efektif, (Bandung: Sinar Baru, 2011).

Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, (Jakarta: PT Bumi Aksara, 2008).

Republik Indonesia, Undang-undang Republik Indonesia No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen & Undang-undang Republik Indonesia No 20 Tahun 2003 tentang sisdiknas, (Bandung: Permana, 2006).

Republik Indonesia, Undang-undang Indonesia Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian (Jakarta: Rineka Cipta, 2013).

Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif (Bandung: Alfabeta, 2014).

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Kuantitatif, Kualitatif dan R & D, (Bandung: Alfabeta, 2013).

Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2015).

Tim Redaksi Lima Adi Sekawan. 2011. EYD Plus. Jakarta: Limas. 

V. Wiratna Sujarweni, Metodologi Penelitian; Lengkap, Praktis, Dan Mudah Dipahami, (Yogyakarta: Pusraka Baru Press, 2014).


Komentar

Postingan populer dari blog ini

hukum Ikhfa Haqiqi (Aqrob, Ab’ad, dan Ausath)

Penilaian Dalam Pembelajaran Terpadu (pengertian, ruang lingkup, tujuan dan fungsi)